hanya sebagai contoh bagi para mahasiswa yang ingin melakukakan penelitian.
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan ”proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia, melalui proses yang panjang dan berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan terjadi melalui interaksi insani, tanpa batas ruang dan waktu. Pendidikan tidak dimulai dan diakhiri di sekolah tetapi pendidikan dimulai dari lingkungan keluarga, dilanjutkan dan ditempa dalam lingkungan sekolah, diperkaya dalam lingkungan masyarakat dan hasilnya digunakan dalam membangun kehidupan pribadi, agama, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara” (Sujana, 2002:2).
Pendidikan memiliki peranan yang penting dalam meningkatkan kualitas manusia. Oleh karena itu, manusia merupakan kekuatan sentral dalam pembangunan, sehingga mutu dan sistem pendidikan akan dapat ditentukan keberhasilannya melalui peningkatan prestasi belajar siswa.
Ilmu pengetahuan yang diperoleh dari proses pendidikan itu merupakan bekal penting bagi setiap orang untuk menjalankan kehidupan. Dalam Al-Qur’an Surat Al-Mujadilah ayat 11 Allah berfirman:
... ... (المجادلة:11)
Artinya : ”… Allah meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat …” (QS. Al-Mujadilah : 11) (Depag RI, 1977:931)
Mempersiapkan peserta didik yang memiliki kompetensi pada hakekatnya merupakan upaya untuk menyiapkan mereka yang mempunyai kemampuan intelektual, spiritual dan sosial yang bermutu tinggi. Seseorang yang memiliki intelektual tinggi adalah orang yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK) dengan baik dan dapat menerapkan dalam kehidupannya dengan sebaik mungkin. Tingkat emosional yang baik seseorang memiliki kesadaran diri emosional, bisa mengelola emosi memanfaatkan emosi secara produktif, memiliki empati, serta dapat membina hubungan sesama manusia. Sedangkan spiritual yang bermutu tinggi apabila seseorang memiliki iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Serta tingkat sosial yang bermutu adalah apabila seseorang dapat berinteraksi dan menempatkan diri dalam masyarakat secara baik. Dengan demikian diharapkan peserta didik mampu menghadapi dan mengatasi segala macam akibat dari adanya perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam lingkungan.
Upaya yang bisa dilakukan adalah meningkatkan mutu pendidikan. Dengan mutu pendidikan yang baik, maka tujuan diatas bisa tercapai dan sekaligus tujuan yang ada dalam undang-undang dasar (UUD) 1945 yaitu ”Mencerdaskan kehidupan bangsa” juga tercapai. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan antara lain dengan cara melaksanakan berbagai pelatihan keterampilan dan peningkatan kualifikasi guru, penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku dan alat pengajaran, perbaikan sarana dan prasarana. Mutu pendidikan akan tercapai jika proses pembelajaran dilakukan secara efesien dan efektif bagi tercapainya pengetahuan dan keterampilan bagi siswa yang sesuai dengan tuntutan zaman. Agar proses belajar mengajar efektif dan efisien perlu diperhatikan adanya kemampuan belajar siswa, penentuan metode mengajar yang digunakan guru serta menyusun strategi belajar mengajar yang sesuai dengan prinsip belajar dan pembelajaran (Nata, 2003:3).
Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha Esa dan berakhlak mulia. Pendidikan agama yang diterapkan di kalangan siswa SMP Islam adalah merupakan sesuatu yang sangat urgen, karena hal ini akan menyangkut tentang pembentukan karakter kehidupan mereka di masa mendatang.
Sesuai dengan pengamatan sepintas peneliti di SMP Islam Nurul Jadid Kokkowan Guluk Manjung Kec. Bluto Kab. Sumenep, proses pelaksanaan pendidikan di lembaga ini sedikit banyak telah menerapkan berbagai metode dan cara yang digunakan untuk mengembangkan pendidikan agama Islam. SMP Islam ini dalam mengembangkan pendidikan agama Islam mengaplikasikan berbagai metode dan cara yang cocok serta sesuai dengan materi ajar, disamping adanya pembaharuan kurikulum juga diikuti dengan keaktifan para guru dalam melaksanakan tugasnya dalam mengajar. Namun demikian prestasi belajar pendidikan agama Islam yang dicapai oleh siswa belum maksimal seperti yang diharapakan, ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang satu dengan lainnya.
Berangkat dari fenomena tersebut penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Study Komparasi Prestasi Belajar PAI antara Siswa yang Berlatar Belakang MI dengan Siswa yang Berlatar Belakang SD di SMP Islam Nurul Jadid Kokkowan Guluk Manjung Kec. Bluto Kab. Sumenep Tahun Pelajaran 2010/2011”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah sebagaimana telah diuraikan di atas, maka peneliti dapat mengemukakan rumusan masalah sebagai berikut :
Adakah perbedaan prestasi belajar PAI antara siswa yang berlatar belakang MI dengan siswa yang berlatar belakang SD di SMP Islam Nurul Jadid Kokkowan Guluk Manjung Kec. Bluto Kab. Sumenep Tahun Pelajaran 2010/2011 ?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perbedaan prestasi belajar PAI antara siswa yang berlatar belakang MI dengan siswa yang berlatar belakang SD di SMP Islam Nurul Jadid Kokkowan Guluk Manjung Kec. Bluto Kab. Sumenep Tahun Pelajaran 2010/2011.
D. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini mempunyai dua manfaat (nilai guna) besar, yaitu makna secara teoritis dan makna secara praktis. Secara teoritis diharapkan penelitian ini dapat menjadi salah satu masukan bagi upaya pengembangan ilmu pendidikan, khususnya pada prestasi belajar siswa. Data yang diperoleh akan semakin memperkaya kajian teoritis terhadap pengembangan pembelajaran dan bahkan kalau mungkin akan semakin mengundang perhatian dan pemikiran untuk menggali bagaimana seharusnya prestasi belajar siswa yang baik guna mewujudkan tujuan pendidikan Islam.
Adapun secara praktis, hasil penelitian ini memungkinkan memberikan makna pada beberapa kalangan, antara lain:
1. Bagi SMPI Nurul Jadid kokkowan
Hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi dalam upaya optimalisasi pelaksanaan pendidikan dan prestasi belajar siswa. Serta sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan sebagai bahan pertimbangan dalam peningkatan mutu pendidikan khususnya yang berkaitan dengan prestasi belajar PAI.
2. Bagi Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan
Hasil penelitian ini memungkinkan untuk menjadi salah satu sumber kajian bagi kalangan mahasiswa baik sebagai pengayaan materi perkuliahan (mata kuliah Strategi pengembangan Pembelajaran) maupun untuk kepentingan penelitian yang pokok kajiannya ada kesamaan.
3. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini akan menjadi salah satu pengalaman yang akan memperluas cakrawala pemikiran dan wawasan pengetahuan, khususnya dalam masalah komparasi pelaksanaan dan pengembangan serta prentasi belajar siswa pada setiap lembaga pendidikan.
4. Bagi Ilmuwan
Hasil penelitian ini untuk dijadikan bahan acuan bagi ilmuwan dalam mengkaji persoalan pendidikan, terutama masalah perbedaan prestasi belajar siswa yang berlatar belakang SD dan siswa yang berlatar belakang MI.
E. Alasan memilih judul
Dalam hal ini yang menjadi alasan penulis untuk memilih judul tersebut adalah sebagai berikut:
1. Alasan Objektif
a. Meneliti perbedaan prestasi belajar siswa pada materi Pendidikan Agama Islam di SMP Islam Nurul Jadid Kokkowan Guluk Manjung Kec. Bluto Kab. Sumenep, dipandang peneliti perlu diangkat untuk nilai tambah bagi pembaca sebagai bahan pengetahuan.
b. Perbedaan prestasi belajar siswa pada materi Pendidikan Agama Islam di SMP Islam Nurul Jadid Kokkowan Guluk Manjung Kec. Bluto Kab. Sumenep mempunyai daya tarik tersendiri ditinjau dari penulisannya, karena selama ini perbedaan tersebut dianggap kurang penting sehingga sangat menarik untuk diteliti.
2. Alasan Subjektif
c. Judul tersebut menarik untuk diteliti karena sesuai denga bidang keilmuan peneliti sebagai mahasiswa IDIA Prenduan Fakultas Tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
d. Dari penelitian ini penulis merasa mempunyai kewajiban untuk memberikan sumbangan pemikiran demi kemajuan pendidikan di SMP Islam Nurul Jadid Kokkowan Guluk Manjung Bluto Sumenep.
e. SMP Islam Nurul Jadid Kokkowan Guluk Manjung Bluto Sumenep merupakan salah satu lembaga yang diperkirakan bisa dijangkau oleh penulis dengan mempertimbangkan waktu, tenaga, dan biaya.
F. Asumsi
Asumsi (postulat) menurut Surahmat (dalam Arikunto, 2006:65) adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik.
Dari pengetahuan tersebut, penulis menjelaskan bahwa asumsi dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Pendidikan Islam mempunyai tugas untuk membina dan membentuk sikap serta kepribadian peserta didik yang dilaksanakan dalam ruang lingkup proses pengaruh mempengaruhi agar terbentuk kemampuan kogitif, psikomotorik, dan afektif yang diharapkan (Muhaimin, 2001:11).
b. Prestasi belajar adalah penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum (Djamarah, 2004:13).
G. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah “dugaan yang mungkin benar atau mungkin salah. Dia akan ditolak jika salah atau palsu, akan diterima jika fakta-fakta membenarkannya. Penerimaan dan penolakan hipotesis dengan begitu sangat bergantung hasil penyelidikan terhadap faktor yang dikumpulkan” (Arikunto, 2002:64).
Pada penelitian ini ada dua macam hipotesa yang berkaitan dengan variabel dependen dan variabel independen yaitu :
a. Hipotesis Kerja (H1)
Ada perbedaan prestasi belajar PAI antara siswa yang berlatar belakang MI dengan siswa yang berlatar belakang SD di SMP Islam Nurul Jadid Kokkowan Guluk Manjung Kec. Bluto Kab. Sumenep Tahun Pelajaran 2010/2011.
b. Hipotesis Nihil (Ho)
Tidak ada perbedaan prestasi belajar PAI antara siswa yang berlatar belakang MI dengan siswa yang berlatar belakang SD di SMP Islam Nurul Jadid Kokkowan Guluk Manjung Kec. Bluto Kab. Sumenep Tahun Pelajaran 2010/2011.
H. Ruang Lingkup Penelitian
Adapun untuk memperjelas dan lebih mengarahkan pemahaman terhadap judul ini, maka penulis perlu untuk memberikan batasan tentang ruang lingkup tersebut sebagai berikut:
VARIABEL INDIKATOR
Prestasi belajar PAI Nilai yang berbentuk angka yang diperoleh dari hasil tes PAI
I. Batasan Istilah Dalam Judul
Untuk mengantisipasi terjadinya salah penafsiran dan pemahaman terhadap uraian-uraian selanjutnya, maka sangat penting memperjelas gambaran judul skripsi ini, penulis akan memberi batasan makna judul “Komparasi Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam” di dalamnya sebagai berikut:
1. Komparasi adalah “suatu penelitian komparasi akan dapat menemukan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan tentang benda-bemda, tentang orang, tentang prosedur kerja, tentang ide-ide, kritik terhadap orang, kelompok, terhadap suatu ide atau suatu prosedur kerja” (Arikunto, 2006:267). Dalam penelitian ini diartikan sebagai pencarian persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan antara siswa yang berlatar belakang SD dan siswa yang berlatar belakang MI di SMP Islam Nurul Jadid Kokkowan
Guluk Manjung Kec. Bluto Kab. Sumenep Tahun Pelajaran 2010/2011.
2. Prestasi Belajar menurut Winkel (1996:162) prestasi belajar adalah “suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya”. Dalam penelitian ini diartikan nilai yang dicapai berupa hasil test siswa yang berlatar belakang SD dan siswa yang berlatar belakang MI di SMP Islam Nurul Jadid Kokkowan Guluk Manjung Kec. Bluto Kab. Sumenep Tahun Pelajaran 2010/2011.
3. Pendidikan Agama Islam adalah “usaha sadar untuk menyiapkan siswa agar memahami ajaran Islam (knowing), terampil melakukan atau mempraktekkan ajaran Islam (doing), dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari (being). Ahmad Tafsir” (Net. 04 Juni 2010). Dalam penelitian ini diartikan proses pembelajaran PAI dalam menyiapkan siswa agar paham, terampil dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
J. Sistematika Pembahasan
Dalam penulisan kripsi ini penulis perlu memberikan sistematika pembahsan yang merupakan suatu urutan dari bab paling awal sampai bab paling akhir yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan sistematis. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah para pembaca dalam memeriksa dan menelaah isi yang terkandung didalamnya, antara lain:
Pada Bab Pertama pendahuluan yang merupakan gambaran keseluruhan dari isi skripsi yang memuat tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, alasan pemilihan judul, penegasan istilah dalam judul, asumsi, hipotesis, ruang lingkup penelitian serta sistematika pembahasan.
Pada bab dua, landasan teori yang terdiri dari tinjauan teoritis tentang prestasi belajar, meliputi pengertian prestasi belajar, ciri-ciri prestasi belajar, macam-macam prestasi belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dan upaya meningkatkan prestasi belajar. Tinjauan teoritis tentang pendidikan agama islam yang meliputi pengertian pendidikan agama islam, fungsi pendidikan agama islam, tujuan pendidikan agama islam, materi pendidikan agama islam, metode pendidikan agama islam dan evaluasi pendidikan agama islam. Kemudian di dalamnya juga dibahas perbedaan prestasi belajar PAI antara siswa SD dengan siswa MI.
Pada bab tiga sebagai metode penelitian dibahas tentang pengertian metode penelitian, rancangan penelitian, teknik penentuan subjek penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.
Pada Bab empat sebagai laporan empiris dikaji tentang tahap persiapan, tahap pelaksanaan, penyajian data, analisis data, pembuktian hipotesis dan pembahasan.
Bab lima merupakan penutup yang meliputi kesimpulan dan saran-saran.
Kamis, 24 Februari 2011
Belajar kelompok perspektif Islam
Artikel ini muncul dari inisiatif pribadi dalam rangka mengimbangi mengimbangi komteks pembelajaran dalam Islam.
Belajar kelompok adalah kalimat yang terdiri dari dua kata “belajar dan kelompok”. Antara belajar dan kelompok mempunyai arti yang berbeda. Oleh kerena itu sebelum pengertian belajar kelompok dibahas, maka akan dibahas disini secara rinci tentang belajar, agar dapat diperoleh gambaran konkrit dan jelas tentang pengertian belajar kelompok.
Kalau kita meneliti lebih jauh tentang belajar, maka kita akan dihadapkan kepada bermacam-macam masalah yang kompleks, sehingga sulit memberikan pengertian yang tepat tentang apa yang sebenarnya disebut dengan belajar. Masalah belajar Allah SWT telah mengisyaratkan dalam Al-qur’an surat al-‘Alaq ayat 1-5, dan surat al-Qalam ayat 1 yang berbunyi :
إِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ. خَلَقَ اْلإِنْسَانَ مِنْ عَلَقَ. إِقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ. الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ اْلإِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ (العلق ۹۶ :۱–۵)
Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang menciptakanmu. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan pada manusia apa yang tidak diketahui” (QS. al-‘Alaq, 96:1-5).
ن. وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَ (القلم ۱: ۶۷)
Artinya : “Nun. Demi kalam dan apa yang mereka tulis” (QS. al-Kalam, 68:1).
Pada surah al-Alaq ayat 1-5 dan surah al-Kalam ayat 1, jelas bahwa manusia di sadarkan oleh perintah Allah SWT yang bersifat wajib menuntut ilmu, agar dia mengetahui Tuhan Yang Menciptakannya. Dengan dasar ini, maka pada diri manusia akan tertanamkan sikap bertanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan ibadah yang salah satunya adalah belajar atau menempuh pendidikan dengan sebaik-baiknya.
Kata”belajar” mempunyai arti yang sangat luas, pengertian belajar secara psikologis merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku (Slameto, 2003:2).
Sebagai landasan penguraian mengenai apa yang di maksud dengan belajar, terlebih dahulu akan dikemukakan beberapa definisi:
a. Hilgard dan Bower dalam buku Theories of learning (1975) mengemukakan “belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap suatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecendrungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat dan sebagainya)”.
b. Gagne, dalam buku The Conditions of learning (1977) menyatakan bahwa: “belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersamaan dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performence-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”.
c. Witherington, dalam buku Education Pscychology (1977) mengemukakan “belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian”.
d. Morgan dalam buku Introduction of Pscychologi (1978), mengemukakan “belajar adalah setiap perubahan yang relatif mantap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman” (Purwanto, 1996:84).
Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas, ada beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian tentang belajar, yaitu bahwa :
a. Belajar merupakan suatu proses perubahan dalam tingkah laku.
b. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman.
c. Untuk disebut belajar maka perubahan itu harus relatif mantap, yang merupakan akhir dari pada suatu periode waktu yang cukup panjang. Berapa lama periode waktu itu berlangsung sulit ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari-hari atau berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun.
d. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik atau psikis.
Secara umum, belajar boleh dikatakan juga sebagai suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungan. Proses interaksi ini terkandung suatu maksud :
a. Proses internalisasi sesuatu ke dalam diri yang belajar
b. Dilakukan secara aktif dengan segenap panca indera ikut berperan
Proses internalisasi yang dilakukan dengan aktif dengan segenap panca indera perlu ada follow-upnya, yakni ”sosialisasi”, proses sosialisasi dalam hal ini dimaksudkan mensosialisasikan atau menginteraksikan atau menularkan kepada pihak lain. Dalam proses sosialisasi dan berinteraksi dengan pihak lain sudah barang tentu melahirkan suatu pengalaman. Dari pengalaman yang yang satu pada pengalaman yang lain akan menyebabkan proses perubahan pada diri seseorang. Perubahan itu dapat mengarah pada yang lebih baik dan mungkin juga mengarah kepada yang lebih buruk.
Jadi, belajar adalah : “sebuah proses bukan produk” (Idris, 2000:1). Belajar adalah merupakan proses dasar dari perkembangan manusia. Tanpa belajar, manusia tidak berhak lagi disebut sebagai makhluk yang berbudaya, sebab dengan belajar manusia bisa melakukan perubahan-perubahan pada diri, baik secara kuantitatif maupun kwalitatif. Belajar harus sesuai dengan tahapan-tahapan tertentu, tetapi ia tidak bisa disamakan dengan sekedar proses kematangan yang biasanya berlangsung secara alamiyah. Maka dari itu, sebenarnya tidak semua perubahan atau perkembangan yang terjadi pada diri seseorang bisa dianggap sebagai proses.
Dalam pengertian “kelompok”, didalam Al-qur’an disebutkan bahwa manusia diciptakan berkelompok-kelompok, seperti firman Allah dalam surat Al-Hujarat ayat 13 yang berbunyi :
يَاأَيُّهَاالنَّاسُ إِنَّاخَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَاللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ (الحجرات ۴۹:۱۳)
Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Hujarat, 49:13).
Dari ayat tersebut maka peneliti akan mengemukakan pengertian kelompok sesuai dengan teori yaitu kumpulan individu yang terdiri dari sekurang-kurangnya 2 orang yang saling berinteraksi dan terlibat dalam suatu kegiatan bersama (Syarqawi, 2000:20).
Hal ini terbentuk adanya solidaritas kelompok, nilai dan norma yang sama dan kewajiban moral untuk melaksanakan harapan-harapan yang sama pula.
Kelompok yang baik adalah kelompok yang para anggotanya saling dukung mendukung dan bantu membantu dalam mensukseskan program. Seperti yang digariskan dalam al-Qur’an :
... وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوْا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوْااللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ (المائدة ۲:۵)
Artinya : “... dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksanya” (QS. Al-Maidah, 5:2).
Keutamaan berkelompok disinyalir dalam hadist Rasulullah SAW bahwa dalam berkelompok Allah akan menurunkan barokah, selama perkumpulan itu berada di jalan Allah :
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : البَرَكَةُ مَعَ الْجَمَاعَةِ (رواه مسلم)
Artinya : “Rasulullah SAW bersabda : barokah akan bersama-sama orang yang berkumpul karena Allah” (HR. Muslim).
Untuk mewujudkan kelompok yang ideal perlu penataan dan pengkondisian kelompok dengan melalui dau sistem, yaitu :
a. Sistem organisasi, adalah kesatuan organisasi dari berbagai unsur yang saling berhubungan dengan sistem sosial yang bersifat langgeng, beridentitas kelompok, memiliki daftar anggota, memiliki program kegiatan dan prosedur dalam penerimaan anggota (Syarqawi, 2000:41).
b. Sistem kerjasama, adalah anak didik sejenis makhluk mono socius, yakni makhluk yang berkecendrungan untuk hidup bersama (Djamarah, 1996:63). Dalam mewujudkan kerjasama, itu perlu adanya sikap saling mempercayai dari para pelakunya dan mengarahkan program pada satu tujuan yang telah ditentukan bersama.
Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kegiatan belajar kelompok adalah cara kegiatan belajar yang dilaksanakan oleh kumpulan individu di luar jam formal dengan program aturan, tujuan yang telah disepakati bersama.
Dari itu, pengertian belajar kelompok lebih sempit dari pengertian belajar, belajar mempunyai arti yang lebih luas karena mencakup semua proses dan kegiatan dimana saja yang menciptakan perubahan pengetahuan, keterampilan dan sikap. Sedangkan belajar kelompok merupakan bagian dari kegiatan belajar, karena belajar kelompok terbatas pada lingkungan sekolah atau lembaga pendidikan. Jadi, belajar kelompok adalah kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok siswa dengan program yang telah direncanakan untuk meringankan beban individu dalam memahami pelajaran dan meningkatkan cara belajar agar mencapai prestasi yang baik.
Belajar kelompok adalah kalimat yang terdiri dari dua kata “belajar dan kelompok”. Antara belajar dan kelompok mempunyai arti yang berbeda. Oleh kerena itu sebelum pengertian belajar kelompok dibahas, maka akan dibahas disini secara rinci tentang belajar, agar dapat diperoleh gambaran konkrit dan jelas tentang pengertian belajar kelompok.
Kalau kita meneliti lebih jauh tentang belajar, maka kita akan dihadapkan kepada bermacam-macam masalah yang kompleks, sehingga sulit memberikan pengertian yang tepat tentang apa yang sebenarnya disebut dengan belajar. Masalah belajar Allah SWT telah mengisyaratkan dalam Al-qur’an surat al-‘Alaq ayat 1-5, dan surat al-Qalam ayat 1 yang berbunyi :
إِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ. خَلَقَ اْلإِنْسَانَ مِنْ عَلَقَ. إِقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ. الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ اْلإِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ (العلق ۹۶ :۱–۵)
Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang menciptakanmu. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan pada manusia apa yang tidak diketahui” (QS. al-‘Alaq, 96:1-5).
ن. وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَ (القلم ۱: ۶۷)
Artinya : “Nun. Demi kalam dan apa yang mereka tulis” (QS. al-Kalam, 68:1).
Pada surah al-Alaq ayat 1-5 dan surah al-Kalam ayat 1, jelas bahwa manusia di sadarkan oleh perintah Allah SWT yang bersifat wajib menuntut ilmu, agar dia mengetahui Tuhan Yang Menciptakannya. Dengan dasar ini, maka pada diri manusia akan tertanamkan sikap bertanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan ibadah yang salah satunya adalah belajar atau menempuh pendidikan dengan sebaik-baiknya.
Kata”belajar” mempunyai arti yang sangat luas, pengertian belajar secara psikologis merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku (Slameto, 2003:2).
Sebagai landasan penguraian mengenai apa yang di maksud dengan belajar, terlebih dahulu akan dikemukakan beberapa definisi:
a. Hilgard dan Bower dalam buku Theories of learning (1975) mengemukakan “belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap suatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecendrungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat dan sebagainya)”.
b. Gagne, dalam buku The Conditions of learning (1977) menyatakan bahwa: “belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersamaan dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performence-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”.
c. Witherington, dalam buku Education Pscychology (1977) mengemukakan “belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian”.
d. Morgan dalam buku Introduction of Pscychologi (1978), mengemukakan “belajar adalah setiap perubahan yang relatif mantap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman” (Purwanto, 1996:84).
Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas, ada beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian tentang belajar, yaitu bahwa :
a. Belajar merupakan suatu proses perubahan dalam tingkah laku.
b. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman.
c. Untuk disebut belajar maka perubahan itu harus relatif mantap, yang merupakan akhir dari pada suatu periode waktu yang cukup panjang. Berapa lama periode waktu itu berlangsung sulit ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari-hari atau berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun.
d. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik atau psikis.
Secara umum, belajar boleh dikatakan juga sebagai suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungan. Proses interaksi ini terkandung suatu maksud :
a. Proses internalisasi sesuatu ke dalam diri yang belajar
b. Dilakukan secara aktif dengan segenap panca indera ikut berperan
Proses internalisasi yang dilakukan dengan aktif dengan segenap panca indera perlu ada follow-upnya, yakni ”sosialisasi”, proses sosialisasi dalam hal ini dimaksudkan mensosialisasikan atau menginteraksikan atau menularkan kepada pihak lain. Dalam proses sosialisasi dan berinteraksi dengan pihak lain sudah barang tentu melahirkan suatu pengalaman. Dari pengalaman yang yang satu pada pengalaman yang lain akan menyebabkan proses perubahan pada diri seseorang. Perubahan itu dapat mengarah pada yang lebih baik dan mungkin juga mengarah kepada yang lebih buruk.
Jadi, belajar adalah : “sebuah proses bukan produk” (Idris, 2000:1). Belajar adalah merupakan proses dasar dari perkembangan manusia. Tanpa belajar, manusia tidak berhak lagi disebut sebagai makhluk yang berbudaya, sebab dengan belajar manusia bisa melakukan perubahan-perubahan pada diri, baik secara kuantitatif maupun kwalitatif. Belajar harus sesuai dengan tahapan-tahapan tertentu, tetapi ia tidak bisa disamakan dengan sekedar proses kematangan yang biasanya berlangsung secara alamiyah. Maka dari itu, sebenarnya tidak semua perubahan atau perkembangan yang terjadi pada diri seseorang bisa dianggap sebagai proses.
Dalam pengertian “kelompok”, didalam Al-qur’an disebutkan bahwa manusia diciptakan berkelompok-kelompok, seperti firman Allah dalam surat Al-Hujarat ayat 13 yang berbunyi :
يَاأَيُّهَاالنَّاسُ إِنَّاخَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَاللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ (الحجرات ۴۹:۱۳)
Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Hujarat, 49:13).
Dari ayat tersebut maka peneliti akan mengemukakan pengertian kelompok sesuai dengan teori yaitu kumpulan individu yang terdiri dari sekurang-kurangnya 2 orang yang saling berinteraksi dan terlibat dalam suatu kegiatan bersama (Syarqawi, 2000:20).
Hal ini terbentuk adanya solidaritas kelompok, nilai dan norma yang sama dan kewajiban moral untuk melaksanakan harapan-harapan yang sama pula.
Kelompok yang baik adalah kelompok yang para anggotanya saling dukung mendukung dan bantu membantu dalam mensukseskan program. Seperti yang digariskan dalam al-Qur’an :
... وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوْا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوْااللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ (المائدة ۲:۵)
Artinya : “... dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksanya” (QS. Al-Maidah, 5:2).
Keutamaan berkelompok disinyalir dalam hadist Rasulullah SAW bahwa dalam berkelompok Allah akan menurunkan barokah, selama perkumpulan itu berada di jalan Allah :
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : البَرَكَةُ مَعَ الْجَمَاعَةِ (رواه مسلم)
Artinya : “Rasulullah SAW bersabda : barokah akan bersama-sama orang yang berkumpul karena Allah” (HR. Muslim).
Untuk mewujudkan kelompok yang ideal perlu penataan dan pengkondisian kelompok dengan melalui dau sistem, yaitu :
a. Sistem organisasi, adalah kesatuan organisasi dari berbagai unsur yang saling berhubungan dengan sistem sosial yang bersifat langgeng, beridentitas kelompok, memiliki daftar anggota, memiliki program kegiatan dan prosedur dalam penerimaan anggota (Syarqawi, 2000:41).
b. Sistem kerjasama, adalah anak didik sejenis makhluk mono socius, yakni makhluk yang berkecendrungan untuk hidup bersama (Djamarah, 1996:63). Dalam mewujudkan kerjasama, itu perlu adanya sikap saling mempercayai dari para pelakunya dan mengarahkan program pada satu tujuan yang telah ditentukan bersama.
Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kegiatan belajar kelompok adalah cara kegiatan belajar yang dilaksanakan oleh kumpulan individu di luar jam formal dengan program aturan, tujuan yang telah disepakati bersama.
Dari itu, pengertian belajar kelompok lebih sempit dari pengertian belajar, belajar mempunyai arti yang lebih luas karena mencakup semua proses dan kegiatan dimana saja yang menciptakan perubahan pengetahuan, keterampilan dan sikap. Sedangkan belajar kelompok merupakan bagian dari kegiatan belajar, karena belajar kelompok terbatas pada lingkungan sekolah atau lembaga pendidikan. Jadi, belajar kelompok adalah kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok siswa dengan program yang telah direncanakan untuk meringankan beban individu dalam memahami pelajaran dan meningkatkan cara belajar agar mencapai prestasi yang baik.
Langganan:
Postingan (Atom)